Mengisi Hari Saraswati PC KMHDI Makassar Gelar Diskusi Publik

Mengisi Hari Saraswati PC KMHDI Makassar Gelar Diskusi Publik

Makassar-Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Makassar menggelar diskusi publik yang bertemakan Filsafat Cinta. Sabtu (07/12/2019)

Kegiatan ini dihadiri oleh pemuda hindu yang ada di kota Makassar yaitu Anggota DPK PERADAH Makassar, anggota PC KMHDI Makassar dan anak-anak Pasraman. Diskusi yang dimulai pukul 21.00 s/d 23.47 WITA di Balai Gong Pura Giri Natha Makassar, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman, genarasi muda mengenai filsafat cinta menurut pandangan agama hindu.

Dalam agama hindu ajaran yang paling mendasar mengenai cinta terdapat dalam Chandogya Upanisad yaitu Tat Twam Asi, aku adalah engkau dan engkau adalah aku, karena aku (Tuhan sebagai jiwatman) ada disetiap mahluk hidup.

Cinta itu sifatnya otonom, timbul dengan sendirinya dan tidak bisa dipaksakan, ibarat anak panah, tak pernah meleset, sekali anak panah melesat maka tidak akan kembali lagi. “Cinta tak pernah salah melainkan kita yang salah memperlakukan cinta, jika dikaitkan dengan kehidupan percintaan dua insan, yang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih walaupun akhirnya tak berujung pada pernikahan, hal itu bukan kaena cintanya yang salah tapi pernikahannya”, Ujar Pak Nyoman Maker selaku pemantik diskusi pada malam hari itu

Mengutip pendapat seorang mahasiswa filsafat denmark soren Keikkegard, seorang eksistenialis mengenai mentalitas gerombongan/ gerumulan, bapak nyoman maker mengungkapkan bahwa manusia sekarang dipengarui oleh mentalitas gerumulan ini, dimana kecendrungan pola pikir seseorang yang meniru orang lain, bertindak seolah mengikuti tren kebanyakan orang, seolah-olah apa yang sedang tren adalah sesuatu yang benar adanya tanpa dipertimbangkan baik-buruknya terlebih dahulu.

Kierkegard kemudian membagi cara berada manusia dalam tiga tahap yaitu, estetis, etis dan religious, selanjutnya dikaitkan dengan cara manusia memperlakukan cinta itu sendiri. Pertama yaitu cinta estetis/cinta atas dasar hasrat tanpa pertimbangan baik buruknya, kedua yaitu cinta etis dimana seseorang yang berada pada tahap ini akan mempertimbangkan baik buruknya dari kenyataan bahwa ia mencinai orang tertentu dan yang ketiga yakni cinta religious yakni ketika orang etis mempertimbangkan baik buruknya berdasarkan akal budi dan keimanannya degan melibatkan relasi dan pengalaman personalnya dengan Sang Ilahi.

“Ketika cinta telah berada pada tingkat religius/ pada tingkat parama satya, maka pada saat itulah tidak akan ada yang bisa mempengaruhi cinta itu sendiri, justru cinta itulah yang akan melindungi kita, maka dari itu berhati-hatilah terhadap cinta”, tambah Pak Nyoman Maker.

Diakhir diskusi baik pemantik maupun peserta berharap besar agar diskusi ini bisa dilaksanakan secara berkesinambungan mengingat masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan dibenak mereka bisa didiskusikan bersama-sama baik pada topic yang sama ataupun topic-topik yang bakalan lebih menarik selanjutnya.