Perbedaan Bukanlah Musibah, Ia Adalah Bahan-Bahan Tuk Menciptakan Pelangi yang Indah

Di dunia ini tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat banyak perbedaan, namun sebagai manusia yang tercerahkan, kita harus ingat bahwa perbedaan bukanlah jurang yang memisahkan, melainkan jembatan yang menghubungkan. Ingatlah bahwa walaupun awan di langit berbeda-beda namun pada akhirnya turun dalam bentuk hujan yang sama, begitu pula dengan agama. Walaupun kita terlahir dengan agama yang berbeda-beda namun pada akhirnya kita pun akan kembali pada tempat yang sama yaitu kedamaian.

 

Kedamaian adalah esensi dari kehidupan. Percayalah bahwa ketika kedamaian telah menyatu di dalam hati maka tidak perlu menunggu mati tuk merasakan surga karena di dunia pun adalah surga. Kedamaian timbul ketika mampu menyiram api kemarahan dengan air ketulusan. Mendekap cacian, hujatan, kemarahan dengan senyuman. Agama hadir bukan untuk menghancurkan namun mencerahkan, mencerahkan jiwa-jiwa yang pemarah menjadi pemurah. Agama bukanlah alat untuk berperang namun sarana untuk saling menebar kasih sayang.

 

Jika pohon-pohon yang kokoh tercipta dari pupuk, maka kasih sayang adalah pupuk yang ditaburkan pada jiwa-jiwa yang indah. Disadari atau pun tidak, sebagai manusia kita hurus menyatu dengan kasih, bukan hanya untuk saling mengasihi namun menjadi kasih itu sendiri. Merasa sakit ketika orang lain terluka dan ikut tersenyum bersuka cita ketika orang lain bahagia adalah wujud kasih itu sendiri. Pelajarannya kemudian, berhenti untuk memberikan penghakiman, namun terus menumbuhkan ranting-ranting bernama kesabaran. Sabar ketika dihujat, dicaci dan senantiasa memaafkan meski tanpa permintaan, mengikhlaskan tanpa pembalasan. hal tersebut adalah suatu jalan menemukan cahaya ketenangan.

Related Post