Pancangkan Penjor Kemenangan

Pemahaman publik umumnya tentang galungan adalah berasal dari bahasa Jawa yang berarti kemenangan dharma (hukum/order, kebenaran) atas adharma (tanpa hukum/kegalauan, kepalsuan/maya). Dalam Kamus Kawi-Jawa Kuna Prof. Wojowarsito tidak ditemukan kata ”galungan”. Namun ada kata ”galunggung” yang merupakan perkembangan dari kata ”galung” dan/”galungan” yang berarti tertancapkan — yang berkaitan pula dengan tradisi menancapkan penjor secara fisik sebagai tonggak peringatan atas suatu peristiwa landmark.

Menurut Lontar Sunarigama Galungan disebutkan bahwa perayaan Galungan yang sudah ada (sejak 882-an Masehi) itu sempat tertahan dan dihidupkan lagi ketika pemerintahan Raja Sri Jaya Kesunu (1204 Masehi) setelah mendapat petunjuk/pawisik di Pura Dalem Puri Besakih tentang perlunya upacara biyakala sebagai penangkal fenomena pendeknya usia para raja waktu itu.

Legenda yang banyak beredar di penduduk Bali adalah bahwa Galungan merayakan dibolehkannya kembali mempersembahkan sesajen ke Pura Besakih yang sebelumnya dihalangi, boleh jadi penguasa sebelum Raja Jaya Kesunu. Dengan dominannya agama Buddha (Mahayana) serta peran pertapa selama pemerintahan Dinasti Warmadewa (hermit kingdom), masuk akal bila tradisi ritual Hindu jadi agak tersisihkan atau tidak dianjurkan. Bisa jadi tekad Raja Jaya Kesunu untuk menghidupkan kembali upacara Galungan itu disambut dengan perayaan (festivitas) oleh penduduk sekaligus sebagai pertanda rasa syukur dengan menggantungkan berbagai wujud hasil bumi pada penjor yang dipancangkan tersebut sebagai bagian dari upacara biyakala itu.

Oleh karena itu pula, upacara tersebut diabadikan menjadi nama pulau ini Bali yang berarti Caru atau persembahan. Dokumen perjalanan pengelana Cina dulu juga menyebutkan nama pulau ini sebagai Wali Dwipa.

Ritual dan Spiritual

Perayaan Galungan yang menonjol dengan aspek festivitas, ritual maupun santap, dan jatuh sebulan setengah sesudah Nyepi, sepertinya merupakan pelengkap makna dari Tahun Baru €aka yang memiliki makna kontemplatif – penekanan pada aspek spiritual (moksha dari Catur Purusha Artha). Walau, menurut Lontar Sunarigama: Galungan yang jatuh pada hari Budha Kliwon Dungulan adalah (juga) saat (untuk) mengintegrasikan (mengutuhkan/holistik) pengetahuan (gnosis) mencerahkan, menghentikan tepat/tuntas semua yang merasuk pikiran (Budha kliwon dungulan ngaran Galungan patitis ikang jnyana sandhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep). Aspek spiritual inilah yang tidak boleh dilupakan, kendati Raja Jaya Kesunu menghidupkan kembali aspek upacara ritual dalam kehidupan beragama di Bali, yang memperoleh sambutan penduduk.

Pembebasan Atman

Di hari Galungan inilah, seperti anjuran Lontar Sunarigama, kita perlu merenungkan juga secara utuh/holistik makna Galungan, menggali nilai-nilai lama, model-model, acuan kehidupan beragama, bermasyarakat dan berpemerintahan untuk mengkaji apakah kita telah mengalami/mencatat kemajuan/kemenangan dalam memperkuat aspek kehidupan kerohanian dan bermasyarakat kita.

Untuk menilai apakah kita mencatat kemenangan tentu kita perlu tahu apa landasan dan strategi besar tujuan hidup kita/manusia. Selanjutnya mengkaji seberapa jauh kita berhasil mewujudkannya secara individual maupun secara kolektif dalam pranata-pranata kemasyarakatan/pemerintahan. Sebagai umat Sanatana Dharma kita memiliki beberapa landasan dan strategi/pedoman seperti Panca Sradha, Tri Kaya Parisudha, Catur Purusha Artha, Catur Ashrama.

Menurut hemat penulis, model kehidupan dan pemerintahan Bali Kuno sudah jauh lebih maju dan berhasil dalam mengakomodasi dan melembagakan pedoman Catur Purusha Artha dan atmano mokshaartham jagad hitaya cha (pembebasan atma menjadi tujuan dan oleh karena itu/dengan demikian kesejahteraan dunia juga) dibandingkan peradaban yang terlihat di Bali sesudah ditundukkan Majapahit, Belanda, Jepang, sampai beralih ke tahapan kemerdekaan dan sesudahnya sampai sekarang.

Di hari seperti Galungan inilah kita perlu memperkuat kehidupan spiritual dengan melakukan introspeksi diri maupun sistem kemasyarakatan/pemerintahan yang ada di Bali apakah telah menunjang/pas dan kondusif untuk mewujudkan strategi dan tujuan bagi umat Sanatana Dharma, seperti Catur Purusha Artha, Tri Kaya Parisudha, Catur Ashrama.

Keberhasilan umat dalam mewujudkan/mencapai tujuan/strateginya akan membantu membentuk organisasi tatanan masyarakat yang kondusif bagi kesinambungan sebuah masyarakat Sanatana Dharma yang seutuhnya dan sebaliknya, Keutuhan dalam bersikap maupun dalam sistem masyarakat makin dibutuhkan saat ini dalam merespons tantangan/ancaman budaya maupun persoalan demografi/ekonomi, politik, lingkungan yang dihadapi Bali. Sebagai salah satu contohnya kencangnya dan derasnya dinamika persoalan yang dihadapi Bali antara lain dalam peningkatan data kependudukan Bali yang cukup drastis yaitu penduduk tetap Bali tercatat 4 juta pada tahun 2012. (tahun 2011 penduduk tetap sekitar 3 juta). Sementara wisman pada akhir tahun 2012 meningkat menjadi 4 juta wisman (tahun 2011 tercatat 3 juta wisman) dan wisdom pada akhir tahun 2012 meningkat drastis menjadi 6 juta wisdom (tahun 2011 hanya 4 juta wisdom). Sehingga Bali yang luasnya terbatas dengan kepadatan hanya terkonsentrasi di Bali selatan (Badung, Denpasar dan Gianyar) telah juga terbebani kebutuhan pasokan pangan yang tercermin dari konsumsi berasnya dapat diestmasi jumlah dinamisnya lebih mendekati 14 juta jiwa tersebut dideduksi dari projeksi cadangan beras untuk tiga bulan yang bisa habis dalam sebulan. Hal ini disebabkan oleh populasi transit pariwisata mancanegara dan domestik, serta pekerja pendatang/musiman yang datang ke Bali.

Belum lagi menyebut persoalan ancaman teror, serbuan HIV AIDS (Bali tertinggi kedua setelah Papua), kriminalitas (destinasi persembunyian pelaku pidana nasional/internasional), investasi bodong, dana besar spekulatif/koruptif sampai dengan Bali terkini sebagai surga pencucian uang yang merupakan ancaman moral hazard bagi para pejabat (potensial rajarsi) dari puncak sampai ke tingkat lapangan. Begitu pula tentang konstelasi geopolitik yang juga telah menempatkan Indonesia di bawah kendali kekuatan politik kekuasaan dan finansial internasional. Nah, maukah Bali menjadi bidak dari bidak dalam percaturan internasionnal ini? Ataukah akan bangkit berbenah setelah menyadari kekuatan-kekuatan inheren peradabannya yang sebenarnya universal dan sangat langgeng itu. Ini baru beberapa aspek dari dinamika persoalan yang bak pasir yang mudah bergeser cepat (shifting sand) itu yang semuanya membutuhkan keutuhan konsep dan keutuhan sistem masyarakat/pemerintahan disertai wewenang yang sepadan guna memfasilitasi dan menjamin penanganan yang tuntas/utuh pula. Karena tanpa landasan sistem yang utuh berkerangka asas Sanatana Dharma, manusia dan budaya Bali yang kita kenal dan dikenal dunia selama ini akan menjadi makin gamang dan berangsur-angsur berbaur dan larut dengan budaya dan tatanan ekonomi politik global yang makin gencar mengepung.

Di hari Galungan inilah saatnya untuk berefleksi dan berkontemplasi untuk dapat menancapkan tekad atmano mokshartham jagadhitaya ca untuk memenangkan budaya dan peradaban Sanatana Dharma yang seutuh mungkin. Bila tidak, kita berpeluang akan menjadi manusia yang tanggung tidak mencapai tujuan manusia atau tidak mewujudkan Catur Purusha Artha dengan utuh. Semoga tidak demikian adanya!